Selasa, 06 Mei 2014
Rabu, 29 Januari 2014
Proses Hipnoterapi
Masuk ke kondisi terhipnosis (hypnotic trance) merupakan suatu proses, di mana secara perlahan tapi pasti, perhatian klien menjadi fokus hingga mencapai konsentrasi yang sangat tinggi.
Saat berada dalam kondisi terhipnosis, perhatian klien menjadi lebih sempit dan lebih fokus. Pada saat inilah seorang hypnotherapist akan memasukkan sugesti-sugesti positif yang diperlukan klien.
Kunci keberhasilan proses hipnoterapi adalah: Trust, Hope, Believe and Dicipline.
Proses hipnoterapi atau curative hypnosis meliputi:
1. PRE-TALK / PRE-INDUCTIONS / PRE-HYPNOSIS INTERVIEW:
Pada tahap awal ini therapist dan klien untuk pertama kalinya bertemu. Setelah klien mengisi formulir mengenai data dirinya, terapis membuka percakapan untuk membangun kepercayaan klien (trust), menghilangkan rasa takut terhadap hipnoterapi (allaying fears), dan menjawab semua pertanyaan klien mengenai hipnoterapi.
Agar proses Pre-Induction berlangsung dengan baik, maka sebelumnya therapist harus dapat mengenali aspek-aspek psikologis dari klien, antara lain : hal yang diminati, hal yang tidak diminati, apa yang diketahui klien terhadap hipnosis, dan seterusnya (gathering informations).
Pre-Induction dapat berupa percakapan ringan, saling berkenalan, serta hal-hal lain yang bersifat mendekatkan seorang therapist secara mental terhadap klien (building rapport). Therapist juga akan membangun ekspekstasi mental klien terhadap masalah yang dihadapinya (building mental expectancy).
Pre-Induction merupakan tahapan yang bersifat kritis. Seringkali kegagalan proses hypnosis diawali dari proses Pre-Induction yang tidak tepat. Jadi ada beberapa hal yang dilakukan pada tahapan ini:
- Building and Maintaining Rapport.
- Allaying Fears.
- Gathering Informations.
- Building Mental Expectancy.
2. SUGGESTIBILITY TEST :
Banyak hipnoterapis yang melakukan kesalahan besar dengan tidak melakukan uji sugestibilitas. Mereka percaya bSahwa mereka dapat melakukan teknik induksi yang sama terhadap setiap klien. Maksud dari uji sugestibilitas adalah untuk menentukan apakah klien masuk ke dalam orang yang mudah menerima sugesti atau tidak. Meskipun tidak selalu demikian.
Selain itu, uji sugestibilitas juga berfungsi sebagai “pemanasan”, dan juga untuk menghilangkan rasa takut terhadap proses hipnoterapi. Uji sugestibilitas juga membantu therapist untuk menentukan teknik induksi yang terbaik bagi sang klien.
3. INDUCTION / INDUKSI:
Induksi, adalah cara yang digunakan oleh seorang hipnoterapis untuk membawa pikiran klien berpindah dari pikiran sadar (conscious mind) ke pikiran bawah sadar (subconscious mind) dengan cara mem-bypass critical factor kliennya.
Saat tubuh rileks, pikiran juga menjadi rileks. Saat kita rileks, gelombang otak akan turun dari Beta, Alfa, Theta, dan Delta. Semakin turun gelombang otak, klien akan semakin rileks, sehingga berada dalam kondisi hypnotic trance.
Melalui data – data yang direkam dari Electroencephalography (EEG), diidentifikasikan dari impuls elektrik yang dipancarkan oleh otak ada empat macam frekuensi gelombang otak (brainwave) yang pokok.
Gelombang otak manusia dipengaruhi oleh perbedaan fungsi otak kanan dan otak kiri.Otak kanan berperan dalam menciptakan emosi, fantasi, imajinasi, dan pikiran bawah sadar, sedangkan otak kiri sangat sadar, berfungsi untuk berpikir, logis dan analitis.
Di bawah ini adalah urutan gelombang otak manusia di dalam aktifitasnya:
Beta (13 – 30 cps) Normal: Contohnya pada saat kita aktif belajar, bekerja, kita dalam keadaan terjaga sepenuhnya.
Alpha (8 – 12 cps) Light Trance: Contohnya pada saat kita santai atau melamun, berada dalam kondisi trance ringan, peningkatan produksi serotonin, kondisi pra-tidur, meditasi, fase awal untuk mengakses pikiran bawah sadar (subconscious).
Theta (4 – 7 cps ) Medium Trance: Contohnya pada saat kita mengantuk, dan bersiap untuk tidur. Tidur REM/Rapid Eye Movement, peningkatan produksi catecholamines (sangat vital untuk pembelajaran dan ingatan), peningkatan kreatifitas, pengalaman emosional, berpotensi terjadinya perubahan sikap, peningkatan pengingatan materi yang dipelajari, hypnogogic imagery, meditasi mendalam, fase lebih dalam untuk mengakses pikiran bawah sadar (subconscious mind).
Delta (1 – 3 cps) Deep Trance Kita tertidur dengan sangat nyenyak, kadang mengigau, sukar dibangunkan. Di dalam konteks hypnoterapy, keadaan ini disebut dengan somnabulism.
Proses hypnoterapy dapat berlangsung jika gelombang otak klien sudah memasuki tahapan Alpha sampai Theta.
Umumnya, selama proses hipnosis orang menjadi lebih reseptif (mudah menerima) sugesti positif yang diberikan seorang hipnoterapis, menyebabkan mereka berubah dalam cara merasakan, menerima saran, kepercayaan terhadap suatu hal, pola berpikir dan berperilaku.
Ketrampilan seorang hipnoterapist, dan kerjasama dengan klien, sangat diperlukan agar klien dapat memasuki alam hypnosis (dunia bawah sadar), mulai dari dalam kondisi light trance sampai medium trance secara mudah.
Pemberian sugesti oleh seorang hipnoterapis tidak perlu dilakukan pada saat klien berada dalam keadaan deep trance, karena klien tidak dapat mendengar sugesti yang diberikan pada saat klien teridur.
Jika klien tertidur, biasanya sang hipnoterapist akan melakukan tapping lembut di kening klien, agar klien dapat keluar dari kondisi deep trance.
Sebaiknya jika ingin menjalani hypnoterapy, klien tidak sedang dalam keadaan sangat capai atau mengantuk. Jika hanya ingin tidur, dapat Anda lakukan di rumah saja karena tidur di rumah gratis, jika Anda tertidur di tempat praktek seorang hipnoterapist, Anda tetap harus membayarnya.
Therapist akan mengetahui kedalaman trance klien dengan melakukan Depth Level Test (tingkat kedalaman trance klien). Depth Level Test dilakukan dengan cara memberikan perintah sederhana yang berlawanan dengan logika kesadaran biasa (conscious).
Beberapa Teknik Induksi: – Eye Fixation – Progressive Relaxation – Mental Confusion – Mental Misdirection – Loss of Equlibrium – dan lain lain.
4. DEEPENING :
Jika klien sudah mengalami trance, tetapi masih dianggap perlu, terapis akan membawa klien ke trance yang lebih dalam (deep alpha sampai theta). Proses pendalaman trance ini dinamakan deepening.
5. SUGESTIONS :
Selanjutnya terapis akan memberikan sugesti-sugesti (saran) yang bersifat theurapeutic kepada klien.
Sugesti-sugesti ini yang diharapkan akan tertanam di pikiran bawah sadar (sub-conscious mind) klien, dan menghasilkan perubahan positif / perbaikan terhadap masalah yang dihadapi klien.
Therapist juga akan memberi Post Hypnotic Suggestion, yaitu perubahan perilaku positif yang diharapkan terjadi setelah proses hipnoterapi selesai.
6. AWAKENING :
Akhirnya terapis secara perlahan-lahan akan membangunkan klien dari “tidur” hipnosisnya, dan membawanya ke keadaan yang sepenuhnya sadar (conscious) atau kondisi gelombang otak Beta kembali.
7. SELF HYPNOSIS:
Setelah klien sadar, terapis mengevaluasi perasaan klien, dan kemudian mengajarkan klien untuk melakukan self hypnosis, karena pada inti dari hipnoterapi adalah Self Hypnosis.
Achmad Ridwan Sudirjo, SH,CHT,CI,LAPHP.
Telepon selular / SMS: 0878 1656 7888
Blackberry PIN : 2973B8A0
Email / YM: achmad_ridwan@yahoo.com
Twiter: @achmadridwan
Alamat praktek dan training (dengan perjanjian) :
Jalan Gunung Rahayu 1 Kav. B 1 – Bandung – Jawa Barat
Izin Praktek: No: 445/3039-Dinkes/30-STPT-Battra/IV/08
Hipnoterapi untuk Kesehatan
Hipnoterapi sampai saat ini masih terus berkembang yang dimulai sejak
abad ke-18, mulai dari konsep hipnosis konvensional yang dikembangkan
oleh Dr. James Braid sampai dengan hypnotherapy klinis modern yang dikembangkan oleh Dr. Milton H. Erickson sampai terakhir-akhir yang dikembangkan oleh Dr. Dave Elman, Gill Boyne maupun Yapko.
Dr. Milton H. Erickson pertama kali memperkenalkan bahwa jiwa manusia sangat unik. Tidaklah mudah meminta orang untuk secara langsung menghilangkan kebiasaan buruk yang ingin dia tinggalkan.
Seperti kita menyampaikan nasihat kepada seseorang yang mengeluh karena dia mempunyai masalah, “Sekarang kamu dapat menyelesaikannya”, atau seseorang yang mempunyai masalah perilaku lalu kita berikan nasihat, “Sekarang perilaku anda sudah berubah menjadi baik”. Belum tentu dia akan merubah perilakunya dengan segera. Mungkin ya, untuk sementara, tetapi biasanya kebiasaan itu akan kembali lagi.
Apalagi jika kita tidak mengetahui akar permasalahannya mengapa dia berperilaku demikian, tidak mengetahui nilai dasar dan keinginan sebenarnya yang dimiliki orang tersebut.
Jiwa manusia sangat kompleks, setiap orang mempunyai jiwa dan nilai yang unik. Perilaku atau respons seseorang tidak sama dalam menghadapi peristiwa yang berbeda. Bahkan sangat mungkin sekali untuk peristiwa yang sama, perilaku atau respons seseorang yang sama dapat berbeda.
Hal inilah yang dikembangkan Erickson menuju metode hypnotherapy yang lebih efektif.
Berkat jasanya dalam mengembangkan metode-metode dalam melakukan
terapi klinis dengan metode Hypnotherapy, maka pada tahun 1950-an
hipnoterapi diakui oleh Asosiasi Medis Amerika (AMA) sebagai metode terapi yang sah.
Pasca Milton H. Erickson, metode ini berkembang terus sampai dengan metode yang berorientasi kepada pasien. Saat ini, metode ini lebih efektif digunakan apalagi digabungkan dengan pola komunikasi yang telah dikembangkan Erickson.
Dasar-dasar Hipnosis:
Pikiran bawah sadar manusia menyimpan misteri yang luar biasa. Banyak hal yang menyangkut manusia bersumber dari berbagai data dan nilai yang tersimpan di pikiran bawah sadar.
Pikiran bawah sadar tidak saja terkait dengan perilaku dan mental, tetapi lebih jauh lagi pikiran bawah sadar dapat merubah metabolisme, mempercepat penyembuhan, atau bahkan memperburuk suatu kondisi penyakit.
Hipnoterapi adalah suatu metode dimana klien dibimbing untuk melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar, sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti / saran penyembuhan yang diberikan.
Hypnotherapy dapat diterapkan kepada mereka yang memenuhi persyaratan dasar, yaitu :
(1). Bersedia dengan sukarela
(2). Memiliki kemampuan untuk fokus dan imajinasi
(3). Memahami komunikasi verbal
Untuk memahami hypnosis atau hypnotherapy secara mudah dan benar, sebelumnya kita harus memahami bahwa aktivitas pikiran manusia secara sederhana dikelompokkan dalam 4 wilayah yang dikenal dengan istilah Brainwave, yaitu : Beta, Alpha, Theta, dan Delta.
![]() |
| Human Brainwave |
Beta adalah kondisi pikiran pada saat sesorang sangat aktif dan waspada. Kondisi ini adalah kondisi umum ketika seseorang tengah beraktifitas normal. Frekuensi pikiran pada kondisi ini sekitar 14 – 24 Cps (diukur dengan perangkat EEG).
Alpha adalah kondisi ketika seseorang tengah fokus pada suatu hal (belajar, mengerjakan suatu kegiatan teknis, menonton televisi), atau pada saat seseorang dalam kondisi relaksasi. Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 7 – 14 Cps.
Theta adalah kondisi relaksasi yang sangat ekstrim, sehingga seakan-akan yang bersangkutan merasa “tertidur”, kondisi ini seperti halnya pada saat seseorang melakukan meditasi yang sangat dalam. Theta juga gelombang pikiran ketika seseorang tertidur dengan bermimpi, atau kondisi REM (Rapid Eye Movement). Frekwensi pikiran pada kondisi ini sekitar 3.5 – 7 Cps.
Delta adalah kondisi tidur normal (tanpa mimpi). Frekuensi pikiran pada kondisi ini sekitar 0.5 – 3.5 Cps
Kondisi terhypnosis sangat mirip dengan kondisi gelombang pikiran Alpha dan Theta.
Kondisi Beta, Alpha, dan Theta, merupakan kondisi umum yang berlangsung secara bergantian dalam diri kita. Suatu saat kita di kondisi Beta, kemudian sekian detik kita berpindah ke Alpha, sekian detik berpindah ke Theta, dan kembali lagi ke Beta, dan seterusnya.
Pada saat setiap orang menuju proses tidur alami, maka yang terjadi adalah gelombang pikiran ini secara perlahan-lahan akan menurun mulai dari Beta, Alpha, Theta, kemudian Delta dimana kita benar-benar mulai tertidur.
Perpindahan wilayah ini tidak berlangsung dengan cepat, sehingga sebetulnya walaupun seakan-akan seseorang sudah tampak tertidur, mungkin saja ia masih berada di wilayah Theta.
Pada wilayah Theta seseorang akan merasa tertidur, suara-suara luar tidak dapat didengarkan dengan baik, tetapi justru suara-suara ini didengar dengan sngat baik oleh pikiran bawah sadarnya, dan cenderung menjadi nilai yang permanen, karena tidak disadari oleh “pikiran sadar” yang bersangkutan,
Penggunaan Hypnosis dalam Bidang Kedokteran :
Seorang yang sakit secara medis, mau sembuh atau tidak mau mengikuti saran dokternya atau tidak, tergantung pada pasien sendiri. Sehebat apapun dokternya, apabila pasien tidak menuruti apa kata dokternya, tentunya sulit untuk sembuh.
Dalam kasus-kasus tertentu yang bersifat medis non psikis, hypnotherapy bukan suatu bentuk alternatif dari pengobatan, tetapi menjadi pelengkap terhadap proses penyembuhannya Sehingga jika secara medis masalah tersebut masih memerlukan pengobatan secara medis maka masih tetap dibutuhkan seorang dokter untuk memberikan obatnya. Seorang hypnotherapist membantu dalam masalah mentalnya.
Metode hypnotherapy modern dengan orientasi kepada pasien lebih banyak berperan untuk ‘membuka’ kesadaran pasien untuk mengetahui masalah utamanya dan membantu pasien untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dia sendiri.
Klien menjadi lebih merasa nyaman dengan kondisinya dan dapat menerima kondisinya, sehingga tidak mengganggu aktifitasnya atau kegiatannya sehari-hari.
Medical hypnosis atau hipnosis kedokteran kini terbagi atas hipnopromosi (meningkatkan kesehatan dengan hipnosis bagi orang sehat), hipnoprevensi (mencegah gangguan kesehatan dengan hypnosis bagi orang sehat), hipnoterapi (penyehatan dengan hinosis bagi orang sakit), serta masih ada hypnosis untuk rehabilitasi bagi orang cacat. Hipnosis juga digunakan di bidang kebidanan (hypnobirthing) dan kedokteran gigi (hypnodontics).
Hipnoterapi merupakan salah satu bentuk psikoterapi dalam dunia psikiatri. Namun demikian, hypnotherapy juga bisa digunakan pada pasien nonpsikiatrik. Pengobatan model ini bisa digabungkan dengan jenis pengobatan lainnya. Banyak dokter terutama ahli bedah dan anestesi yang terlatih dalam penggunaan hipnoterapi. Demikian pula dokter gigi serta para perawat.
Klien sebagai subjek:
Orang yang terhipnosis, sebenarnya tidak dalam keadaan tidur sesungguhnya. Walaupun menggunakan perintah berupa kata ‘tidur’, kata itu tidak membuat pasien tidur sesungguhnya.
Subyek / klien tetap dalam keadaan awake, serta mampu mengobservasi perilakunya selama dalam keadaan hypnosis. Ia menyadari segala sesuatu yang diperintahkan serta dapat menolak sesuatu yang bertentangan dengan keinginan atau norma-norma umum.
Selain itu, sebelum proses ini dilakukan, telah ada kesepakatan antara pasien dengan penghypnosis untuk melakukan hypnotherapy.
Melakukan hypnotherapy terhadap klien sama halnya dengan melakukan terapi lainnya. Klien harus tahu persis mengapa diperlukan bantuan hypnosis dalam terapinya, serta keunggulan apa yang didapatkan dibandingkan model terapi lainnya.
Proses hypnotherapy juga harus dilakukan dengan jelas, terbuka, dan tanpa paksaan.
Sebelum melakukan hypnosis, klien harus terlebih dahulu menjalani pemeriksaan fisik, dan bila perlu disusul dengan menjalani pemeriksaan laboratorium (darah, urine, dll).
Hipnotererapis sebagai fasilitator dan pasien sebagai subjek perlu menjalani kerjasama yang baik sebelum proses hypnosis dimulai. Pemahaman pasien akan masksud dan tujuan hypnotherapy merupakan kunci efektifitas terapi ini.
Karena itu diperlukan informasi yang jelas dan pemahaman yang sama. Hal ini bertujuan agar persepsi yang terbentuk dalam tingkat sadar sejalan dengan persepsi bawah sadar.
Menurut dr. Erwin Kusuma SpKJ (K), klien hipnosis berperan sebagai subjek. Ini berarti klienlah yang menentukan apa yang akan dilakukan. Sementara penghipnosis hanya berperan sebagai fasilitator. Bila sudah terampil, lanjut dosen hipnosis kedokteran FKUI ini, pasien tidak perlu lagi peran fasilitator sehingga hypnosis bisa dilakukan sendiri (autohypnosis).
Pada tingkat bawah sadar, klien tetap sepenuhnya memiliki kendali terhadap kemauannya sendiri sehingga ia tidak mungkin dipengaruhi di luar kesadarannya. ”Ini yang sering disalah mengerti oleh orang awam,” ungkap lulusan Psikiatri Anak dan Remaja FKUI tahun 1982 itu.
Relaksasi Mendalam sebagai Teknik Hipnosis Modern:
Hipnosis di masa lalu indentik dengan kondisi tidur, terbaring, atau
tidak bergerak. Pada masa kini, hipnosis lebih ditekankan pada kondisi
relaksasi yang dalam, baik secara fisik maupun mental.
Dalam kondisi hipnosis, lanjutnya, sugesti positif yang ditanamkan disusun dalam kalimat yang sederhana. Karena pada kondisi ini kemampuan seseorang untuk merangkum kalimat demi kalimat mengalami penurunan.
Kasus yang Dapat Ditangani dengan Hypnotherapy:
Kasus seperti apa saja yang bisa mendapatkan hipnoterapi? Erwin
mengungkapkan, klien dengan kasus kecemasan dan fobia adalah yang
paling sering mendapatkan hipnoterapi. Bagi klien yang mengalami
gangguan kecemasan sehingga cemas pula untuk menelan obat, hypnotherapy
adalah tindakan yang utama.
Gangguan kesehatan bioplasmik (aura dan chakra), ungkap Erwin, sudah tentu harus diatasi dengan hypnotherapy. Ini karena obat-obatan kimia tidak mampu mencapai bioplasmik tersebut. Gangguan kesehatan bioplasmik dapat dilihat dari menurunnya ketahanan mental maupun fisik, serta berbagai bentuk alergi.
Hipnoterapi juga dilakukan untuk klien dengan gangguan psikosomatik. Sedangkan untuk gangguan fisik murni (somatik), hypnotherapy berperan sebagai penunjang. Kasus kebutaan histerik, yakni kebutaan yang timbul setelah mengalami trauma psikis, juga dapat diobati dengan hypnotherapy.
Seperti halnya jenis terapi lainnya, harus ada indikasi (alasan) untuk menggunakan hypnotherapy. Selain itu, terapi jenis ini digunakan bila manfaatnya lebih besar dari pada kerugian yang mungkin timbul.
Lebih lanjut, hypnotherapy mempunyai manfaat sebagai berikut: Pada anak-anak, hypnotherapy dapat menghilangkan kebiasaan buruk seperti gigit kuku, menghisap jari, gagap, ngompol, alergi/kulit merah-merah.
Pada pasien dewasa, hipnoterapi dapat menghilangkan kebiasaan buruk seperti masturbasi, merokok, judi, insomnia, penyakit kulit, kleptomania, phobia, trauma pskologis (kekerasan, perkosaan), serta dapat mempercepat penyembuhan ketergantungan narkoba.
Di samping itu juga dapat membantu mengatasi luka bakar, melenyapkan timbulnya kutil, serta mampu menyembuhkan penyakit seperti asma, sinusitis, arthritis, mabuk laut, gangguan menstruasi, tekanan darah tinggi, stroke, impotensi, mengatasi rasa sakit (kasus kanker, persalinan, dan cabut gigi).
Hipnosis juga digunakan untuk mengatasi kecemasan bawah sadar sehingga pasien mampu untuk menghadapi realitas, seperti pada kasus phobia, cemas, gangguan psikomatik, ataupun kebiasaan buruk (bad habits).
Di bidang psikologi belajar, hipnosis dapat diarahkan untuk mengingkatkan konsentrasi, daya ingat, kreatifitas, ataupun kesiapan menghadapi ujian. Sementara di bidang industri, hypnosis bermanfaat untuk meningkatkan mutu SDM sehingga diharapkan mampu menghadapi situasi kompetitif dan efektif dalam menjalani tugas.
Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara klien dan terapis yang menggunakan prinsip-psinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran dan perasaan klien supaya membantu klien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
Ciri-ciri dari defenisi mengenai psikoterapi ini, seperti penjelasan dibawah ini:
Interaksi Sistematis :
Psikoterapi adalah suatu proses yang menggunakan suatu interaksi antara
kline dan terapis. Kata sistematis di sini berarti terapis menyusun
interaksi-interaksi dengan suatu rencana dan tujuan khusus (goal
setting) yang menggambarkan segi pandangan teoritis terapis.
Prinsip-prinsip Psikologis :
Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip penelitian, dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi teraupetik.
Psikoterapis menggunakan prinsip-prinsip penelitian, dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi teraupetik.
Tingkah Laku, Pikiran dan Perasaan :
Psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan perubahan-perubahan behavioral, kognitif dan emosional serta membantunya supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh perasaan. Psikoterapi mungkin diarahkan pada salah satu atau semua ciri dari fungsi psikologis ini.
Psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan perubahan-perubahan behavioral, kognitif dan emosional serta membantunya supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh perasaan. Psikoterapi mungkin diarahkan pada salah satu atau semua ciri dari fungsi psikologis ini.
Tingkah Laku Abnormal, Memecahkan Masalah, dan Pertumbuhan Pribadi :
Sekurang-kurangnya ada tiga kelompok klien yang dibantu oleh
psikoterapi. Kelompok pertama adalah orang-orang yang mengalami
masalah-masalah tingkah laku yang abnormal, seperti gangguan suasana
hati, gangguan penyesuaian diri, gangguan kecemasan atau depresi.
Untuk beberapa gangguan ini, terutama gangguan bipolar dan
skizofrenia, farmakoterapi umumnya memegang peranan utama dalam
perawatan. Meskipun demikian, selain farmakoterapi, psikoterapi membantu
pasien belajar tentang dirinya sendiri dan memperoleh
keterampilan-keterampilan yang akan memudahkannya menanggulangi
tantangan hidup dengan lebih baik.
Kelompok kedua adalah orang-orang yang meminta bantuan untuk
menangani hubungan-hubungan yang bermasalah atau menangani
masalah-masalah pribadi yang tidak cukup berat dianggap abnormal,
seperti perasaan malu atau bingung mengenai pilihan-pilihan karir.
Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mencari psikoterapi karena
psikoterapi dianggap sebagai sarana untuk memperoleh petumbuhan pribadi.
Bagi mereka, psikoterapi adalah sarana untuk penemuan diri dan
peningkatan kesadaran yang akan membantu mereka untuk mencapai potensi
yang penuh sebagai manusia.
Hypnotherapy Sebagai Salah Satu Bentuk Psychotherapy:
Menurut Kapplan, Saddock, dan Grebb dalam buku “Sinopsis Psikiatri Jilid II” hal 383
tentang Psikoterapi, Hipnoterapi merupakan salah satu bentuk Psikoterapi, disamping:
tentang Psikoterapi, Hipnoterapi merupakan salah satu bentuk Psikoterapi, disamping:
> Psikoanalisis dan Psikoterapi Psikoanalitik
> Psikoterapi Singkat dan Intervensi Krisis
> Psikoterapi Individual dan Kelompok
> Terapi Marital dan Keluarga
> Terapi Biofeedback
> Terapi perilaku
> Dan Terapi Kognitif.
> Psikoterapi Singkat dan Intervensi Krisis
> Psikoterapi Individual dan Kelompok
> Terapi Marital dan Keluarga
> Terapi Biofeedback
> Terapi perilaku
> Dan Terapi Kognitif.
Hipnoterapi Menurut Konsil Kedokteran Indonesia:
Hipnoterapi adalah suatu bentuk terapi dengan
memberdayakan tenaga pikiran bawah sadar, dengan terlebih dulu
mengistirahatkan pikiran sadar klien.
Dokter, menggunakan hipnoterapi berdasarkan Standar
Kompetensi Dokter dari Konsil Kedokteran Indonesia (Indonesian Medical
Council) dalam rangka terapi kedokteran sebagai salah satu layanan
Hipnosis Kedokteran, yaitu Hipnosis Kedokteran Kuratif (Early diagnosis and promt traetment); disamping Hipnosis Kedokteran Promotif (Health promotion), Hipnosis Kedokteran Preventif (Prevention of Diseases) serta Hipnosis Kedokteran Habilitatif (Habilitative Medical Hypnosis) untuk kasus retardasi dan Hipnosis Kedokteran Rehabilitatif (Rehabilitative Medical Hypnosis) untuk kasus regresi.
Paramedik, menggunakan hipnoterapi dibawah pengawasan dokter.
Psikiater, menggunakan hipnoterapi sebagai salah
satu bentuk dari Psikoterapi, disamping Somaterapi (farmakoterapi dan
fisioterapi seperti ECT / listrik. light therapy / sinar) dan
Sosioterapi (WHO: bio-psiko-sosial), dengan Tingkat Kemapuan (Level of
Expected Ability) 1 – 4 (knows – does).
Psikolog, menggunakan hipnoterapi sebagai salah satu bentuk Psikoterapi, dalam rangka Hipnosis Klinik Kuratif, disamping Hipnosis Klinik Promotif, Hipnosis Klinik Preventif, Hipnosis Klinik Habilitatif dan Hipnosis Klinik Rehabilitatif.
Juga, penggunaan hipnosis untuk bidang psikologi lainnya, seperti
pendidikan, penelitian, manajemen, peningkatan sumber daya manusia, dsb.
Hipnoterapis adalah seseorang yang khusus
mempelajari hipnoterapi, menggunakan hipnoterapi sebagai satu-satunya
bentuk terapi; sehingga disamping menguasai ilmu pengetahuan dan seni
ketrampilannya (knowledge and skills, science and art, teori dan praktek), juga perlu mengetahui benar, tujuh hal berikut ini:
1. Alasan penggunaaan hipnoterapi (Indications)
2. Pencegahan penggunaan hipnoterapi untuk kasus tertentu (Precautions)
3. Pantangan penggunaan hipnoterapi (Contra Indications)
4. Efek Samping yang dapat timbul pada hipnoterapi (Side Effects)
5. Penanggulangan efek samping dari hipnoterapi (Side Effects Management)
6. Bahaya yang mungkin timbul pada penggunaan hipnoterapi (Dangers of hypnotherapy)
7. Aspek Hukum dan Etika dari hipnoterapi (Legal and ethical aspects of hypnotherapy)
Saat ini banyak orang yang belum mengenal hypnotherapy secara benar
sehingga enggan menjalani hypnotherapy. Masih banyak miskonsepsi
terhadap hypnotherapy / hipnoterapi.
Hal ini dikarenakan masyarakat menganggap hypnotherapy sama dengan stage hypnosis yaitu penggunaan hypnosis untuk hiburan / entertainment, padahal hypnotherapy dan hypnosis untuk hiburan adalah dua hal yang sangat berbeda.
Achmad Ridwan Sudirjo, SH,CHT,CI,LAPHP.
Telepon selular / SMS: 0878 1656 7888
Blackberry PIN : 2973B8A0
Email / YM: achmad_ridwan@yahoo.com
Twiter: @achmadridwan
Alamat praktek dan training (dengan perjanjian) :
Jalan Gunung Rahayu 1 Kav. B 1 – Bandung – Jawa Barat
Izin Praktek: No: 445/3039-Dinkes/30-STPT-Battra/IV/08
Achmad Ridwan Sudirjo, SH,CHT,CI,LAPHP.
Telepon selular / SMS: 0878 1656 7888
Blackberry PIN : 2973B8A0
Email / YM: achmad_ridwan@yahoo.com
Twiter: @achmadridwan
Alamat praktek dan training (dengan perjanjian) :
Jalan Gunung Rahayu 1 Kav. B 1 – Bandung – Jawa Barat
Izin Praktek: No: 445/3039-Dinkes/30-STPT-Battra/IV/08
Langganan:
Postingan (Atom)



